Jurnal Praktikum
Kimia Organik 1
Reaksi - Reaksi Aldehida dan Keton
Disusun Oleh :
Adriyan Wijaya Putra
(A1C118035)
Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2020
Percobaan 5
I. Judul : Reaksi - Reaksi Aldehida dan Keton
II. Hari/Tanggal : Rabu/ 18 Maret 2020
III. Tujuan : Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Untuk dapat memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil.
2. Untuk dapat memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton.
3. Untuk dapat menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton.
IV. Landasan Teori
VI. Prosedur Kerja
6.1 Uji Cermin Kaca, Tollens
a. Disiapakan empat tabung reaksi yang sudah diisi pereaksi tollens.
Cara membuat : tabung reaksi yang bersih sekali, dimasukkan 2 ml perak nitrat 5% dan ditambahkan dengan 2 tetes larutan NaOH 5% dan ditambah tetes demi tetes dengan larutan amonium hidroksida 2% sambil terus diaduk. amonium hidroksida ditabah secukupnya karenapengujian akan gagal jika terlalu banyak amonium.
b. Diuji benzaldehid, aseton, sikloheksanon, dan fomalin dengan memasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi pereaksi tollens sebanyak 2 ml.
c. Diaduk campuran dan didiamkan selama 10 menit.
d. Dipenaskan tabung dalam penangas air selama lima menit jika reaksi tidak terjadi.
6.2 Uji Fehling dan Benedict
a. Dimasukkan 5 ml kedalam masing-masing empat tabung reaksi pereaksi benedict.
Cara membuatnya : larutan 173 gram natrium sitrat dan 100 gram natrium karbonan dalam 750 aquadest, diaduk dan disaring ke dalam filtrat dan ditambah dengan larutan 17,3 gram CuSO4.5H20 dalam 100 ml air dan diencerkan hingga volumenya 1 liter.
b.Digunakan 5 ml pereaksi fehling yang masih fresh.
Cara membuat : larutan A = 69 Gram CuSO4.5H2O dalam 1 liter air suling. Larutan B= 346 gram natrium kalium tartrat atau garam Rochelle didalam larutan NaOH 10%, dimana pereaksi fehling A dan B sama banyak baru di campur.
c. Diuji formaldehid, n-heptanaldehid, aseton, dan sikloheksanon dengan memasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi yang berisi pereaksi fehling dan pereaksi Benedict.
d. Ditempatkan tabung yang berisi tadi di air mendidih selama 10-15 menit.
6.3 Adisi Bisulfit
a. Dimasukkan 5 ml larutan NaHSO3 ke dalam erlenmeyer 50 ml.
b. Dilarutkan larutan dalam air es.
c. Ditambahkan 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk.
d. Ditambahkan 10 mletanol setelah 5 menit. unutk memulai kristalisasi.
e. Disaring kristal dengan corong Hirsch.
f. Apa yang akan terjadi bila kristal dalam tabung reaksi ditambahakan beberapa tetes HCl pekat.
6.4 Pengujian dengan Fenilhidrrazin
a. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar 5 ml fenilhidrazin
b. Ditambahakan dengan 10 tetes bahan yang akan di uji yaitu : benzaldehida
dan sikloheksanon.
c. Ditutup tabung reaksi dan digoncang dengan kuat selama 1-2 menit hingga mengkristal.
d. Disaring kristal dengan corong Hirsch dan dicuci dengan sedikit air dingin.
e. Direkristalisasi dengan sedikit metanol dan etanol.
f. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya.
g. Digunakan dengan cara yang sama untuk 2,4-dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon. tentukan titik lelehnya.
6.5 Pembuatan Oksim
a. Dimasukkan 1 gram hidroksilamin HCl dan 1,5 gram natrium asetat trihidrat dalam erlenmeyer 50 ml dan dilarutkan dalam 4 ml air .
b. Dipanaskan larutan sampai 35 drajat celcius.
c. Ditambahakan dengan sikloheksanon tutup dan gocang selama 1-2 menit.
d. Dilihat pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk
e. Didinginkan dalam lemari es.
f. Disaring kristal dengan corong Hirsch
g. Dicuci dengan 2 ml air es
h. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya.
6.6 Reaksi Haloform
a. Dimasukkan 5 tetes aseton dalam erlenmeyer yang telah berisi 3 ml larutan NaOH 5%.
b. Ditambahkan sekita 10 ml larutan iodium iodida.
Cara membuat : dilarutkan 25 gram iodium dan 50 gr larutan kalium iodida dalam 200 ml air.
c. Digoncang sampai warna coklat tidak hilang lagi.
d. Diamati odoform yang berwarna kuning akan mengendap dan bau khas yang timbul.
e. Dilakukan pengujian terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.
6.7 Kondensasi Aldol
a. Ditambahkan 0,5 ml asetaldehid ke larutan NaOH 1% .
b.Digoncang dan catat baunya (sisa asetaldehid).
c. Dipanaskan campuran selama 3 menit.
d. Dicatat, hati-hati bau tengik dari krotonaldehid.
e. Disusun peralatan untuk merefluks.
f. Dimasukkan 50 ml etanol, 1 ml aseton, 2 ml benzaldehidm dan 5 ml larutan NaOH 5%.
g. Direfluks campuran selama 5 menit.
h. Didinginkan labu dan kumpulkan kristal dengan corong Buchner.
i. Direkristalisai dengan etanol dan tentukan titik lelehnya.
Untuk videonya dapat dilihat dilink dibawah ini :
Aldehid dan keton adalah salah
satu dari sekian banyak jenis senyawa organik yang ada, dimana pada senyawa ini
terkandung gugus karbonil yang berbeda, namun mempunyai sifat kimia yang sama
tetapi berbeda sifat fisikanya. Untuk memahami berbagai jenis reaksi senyawa
karbonil ini, diperlukannya untuk memahami sifat kimia dan fisikanya. Aldehid
dan keton itu sendiri merupakan senyawa polar yang mempunyai molekul yang dapat larut dalam air
yang disebabkan oleh adanya ikatan antara hidrogen dan air dengan gugus
karbonil yang polar. Serta aldehid dan keton bertidak sebagai akseptor ikatan
hidrogen. Untuk mengidentifikasi senyawa aldehid dan keton dapat dilakukan dengan cara reaksi oksidasi. Hal
ini karena aldehid mudah menjalani reaksi
oksidasi. Sehingga dapat dibedakan yang mana gugus aldehida (-CHO) dan yang mana
gugus keton (-CO-). Serta perbedaaan kereaktifan terhadap oksidator ini dapat
pula digunakan sebagai pembeda senyawa aldehid dan keton. Ini dikarenakan
aldehid adalah reduktor yang kuat sementara keton sendiri merupakan reduktor
yang lemah yang mana tidak dapat mengoksidasi larutan tollens dan fehling
(Syamsurizal, 2019).
Pada sistem penamaan senyawa
aldehid yang berdasarkan sistem penamaan IUPAC adalah menggunakan akhiran –al
untuk rantai induknya. Penomoran dimulai dari rantai karbon yang mengandung gugus
aldehida, dimana biasanya gugus ini selalu pada posisi angka satu. Contohnya
seperti senyawa pentana menjadi pentanal. Sementara untuk penamaan keton
berdasarkan sistem penamaan IUPAC adalah menggunakan akhiran –on. Rantai induknya harus
mengandung atau mencakup gugus karbonil yang dinomori dari ujung rantai ke
gugus karbonil yang pertama kali, dimana gugus karbonil dengan nomor yang
paling rendah. Contohnya senyawa pentana menjadi pentanon (Petrucci, 2008).
Aldehida dan keton adalah senyawa
organik yang mengandung gugus karbonil, dimana R’ adalah gugus alkil atau aril
yang senyawanya keton, dimana karbonilnya mengikat dua gugus alkil. Sedangkan R
atau R’ adalah atom H maka senyawanya merupakan aldehida dimana karbornilnya
mengikata satu atau dua atom hidrogen dan hanya memiliki satu gugus alkil. Kedua senyawa ini sering disebut juga sebagai
senyawa karbonil karena mengandung gugus karbonil, dimana dapat menuntukan
sifat-sifat kimia dan perbedadaan struktur keton dan aldehid. Pada senyawa
aldehid sangat sekali mudah teroksidasi
dan juga lebih reaktif terhadap adisi nukleofilik dari pada senyawa keton.
Aldehid dan keton senyawa yang tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen. Senyawa aldehid dan keton dapat diperoleh dari reaksi oksidasi alkohol
yaitu dimana alkohol primer dioksidasi akan mengahasilkan aldehid dan alkoloh sekunder dioksidasi akan
menghasilakn senyawa keton (Sastrohamidjojo, 2011).
Perbedaan kereaktifan terhadap
oksidator antara aldehid dan keton dapat digunakan untuk membedakan kedua
senyawa ini. Pada senyawa aldehid akan berekasi dangan perekasi tollens, tetapi
tidak akan berekasi dengan keton. Perekasi tollens atau ion perak baramonia
yang mana akan bereaksi dengan ladehida yaitu dengan mengalami reaksi reduksi yang mana akan menghasilkan
logam perak. Pengujian dengan perekasi ini dalam keadaan ecer akan terdapat
endapan berupa cermin. Uji untuk membedakan senyawa aldehid dan keton juga
dapat dilakukan dengan preaksi fehling yang mana kana bereaksi dengan aldehid
tapi tidak berekasi untuk senyawa keton. Senyawa karbonil biasanya mengalami
reaksi adisi, dimana reaksi adisi akan berekasi dengan ikatan rangkap karbonil
dengan perekasi nukleofil. Pasaangan
elektron bebas pada nitrogen dari amonia atau senyawa lain yang dapat
memnyebabkan bisa bereaksi dengan senyawa karbonil sebagai nukleofil. Seperti
denilhidrazin berekasi kana mengahasilkan fenilhidrazon. Yang senyawa ini dapat
mengidentifikasi aldehid dan keton dengan melalui titik lelehnya. Begitu juga dengan hidroksilamin yang berekasi
dengan karbonil yang menghasilkan osim yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi juga. Senyawa trihalo
yaitu senyawa yang mudah sekali mengurai yang akan menghasilkan haloform
yang digunkaan unutk mengujiadanya metil keton. Anion enoalat adalah nukleofil
yang dapat diadisi dengan gugus karbonil yang akan menghasilkan ikatan karbon
yang baru, yang sering digunakan dalam proses sintesis. Seperti asetaldehid
yang direaksikan dalam larutan basa ecer akan menhasilkan aldehid tak jenuh
yang biasa dikenal dengan krotonaldehid (Penuntun Kimia Organik I, 2016).
Gugus karbonil merupan suatu
gugus yang dimiliki oleh beberapa golongan senyawa seperi aldehida, keton, asam
karbosilat, ester dan turunan lainnya. Pada golongan senyawa aldehida memiliki
paling sedikit satu atom hidrogen yang melekat pada gugus karbonilnya,
sedangkan gugus lainnya dapat berupa gugus alkil atau aril. Unutk keton sendiri
memiliki atom karbon yang dihubungi dengan dua atom carbon lain. Senyawa
aldehid dan keton dappat dibedakan dari
melihat perbedaan gugusnya yang terikat pada gugus karbonil. Dimana pada keton
sangan sukar untuk dioksidasi dan aldehid mudah teroksidasi. Hal ini dikarenakan
pada aldehid atom H nya menempel pada gugus karbonilnya. Karakteristik dari
masing-masing aldhid dan keton yaitu dapat dilihat, pada senyawa aldehida tidak
berwarna, pada suhu kamar akan berwujud gas dengan bau yang kurang enak, akan
enak baunya saat cair dalam suhu kamar, dan juga merupakan senyawa polar yang
membuat titik didihnya tinggi. Sementara karakteristik keton besifat polar
karena gugus karbonilnya yang polar yang mana mudah larut dalam air, berupa
cairan tidak berwarna, memiliki titik didih yang relatif tinggi yang mana mudah
direduksi dengan gas H2 dimana akan menghasilkan alkohol skunder (Iqbal, 2010).
V. Alat dan Bahan
5.1
Alat
1. Tabung Reaksi
2. Pipet Tetes
3. Erlenmeyer
4. Penangas Air
5. Batang Pengaduk
6. Corong Hirsch
7. Corong Buchner
8. Alat Refluks
9. Gelas Kimia
5.2
Bahan
1. Aquades
2. Pereaksi Tollens
3. NaOH 5%
4. Amonium Hidroksida 2%
5. Benzaldehid
6. Aseton
7. Sikloheksanon
8. Formalin
9. Pereaksi benedict
10. Garam Rochele
11. n-heptanaldehid
12. NaHSO3
13. Air Es
14. Etanol
15. HCl Pekat
16. Fenil Hidrazin
17. Metanol
18. Hidrosilamin HCl
19. Natrium Asetat
20. Larutan Iodium Iodida
21. Isopropanol
22. 2-Pentanon dan 3-Pentanon
23. NaOH 1%
VI. Prosedur Kerja
6.1 Uji Cermin Kaca, Tollens
a. Disiapakan empat tabung reaksi yang sudah diisi pereaksi tollens.
Cara membuat : tabung reaksi yang bersih sekali, dimasukkan 2 ml perak nitrat 5% dan ditambahkan dengan 2 tetes larutan NaOH 5% dan ditambah tetes demi tetes dengan larutan amonium hidroksida 2% sambil terus diaduk. amonium hidroksida ditabah secukupnya karenapengujian akan gagal jika terlalu banyak amonium.
b. Diuji benzaldehid, aseton, sikloheksanon, dan fomalin dengan memasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi pereaksi tollens sebanyak 2 ml.
c. Diaduk campuran dan didiamkan selama 10 menit.
d. Dipenaskan tabung dalam penangas air selama lima menit jika reaksi tidak terjadi.
6.2 Uji Fehling dan Benedict
a. Dimasukkan 5 ml kedalam masing-masing empat tabung reaksi pereaksi benedict.
Cara membuatnya : larutan 173 gram natrium sitrat dan 100 gram natrium karbonan dalam 750 aquadest, diaduk dan disaring ke dalam filtrat dan ditambah dengan larutan 17,3 gram CuSO4.5H20 dalam 100 ml air dan diencerkan hingga volumenya 1 liter.
b.Digunakan 5 ml pereaksi fehling yang masih fresh.
Cara membuat : larutan A = 69 Gram CuSO4.5H2O dalam 1 liter air suling. Larutan B= 346 gram natrium kalium tartrat atau garam Rochelle didalam larutan NaOH 10%, dimana pereaksi fehling A dan B sama banyak baru di campur.
c. Diuji formaldehid, n-heptanaldehid, aseton, dan sikloheksanon dengan memasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi yang berisi pereaksi fehling dan pereaksi Benedict.
d. Ditempatkan tabung yang berisi tadi di air mendidih selama 10-15 menit.
6.3 Adisi Bisulfit
a. Dimasukkan 5 ml larutan NaHSO3 ke dalam erlenmeyer 50 ml.
b. Dilarutkan larutan dalam air es.
c. Ditambahkan 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk.
d. Ditambahkan 10 mletanol setelah 5 menit. unutk memulai kristalisasi.
e. Disaring kristal dengan corong Hirsch.
f. Apa yang akan terjadi bila kristal dalam tabung reaksi ditambahakan beberapa tetes HCl pekat.
6.4 Pengujian dengan Fenilhidrrazin
a. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar 5 ml fenilhidrazin
b. Ditambahakan dengan 10 tetes bahan yang akan di uji yaitu : benzaldehida
dan sikloheksanon.
c. Ditutup tabung reaksi dan digoncang dengan kuat selama 1-2 menit hingga mengkristal.
d. Disaring kristal dengan corong Hirsch dan dicuci dengan sedikit air dingin.
e. Direkristalisasi dengan sedikit metanol dan etanol.
f. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya.
g. Digunakan dengan cara yang sama untuk 2,4-dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon. tentukan titik lelehnya.
6.5 Pembuatan Oksim
a. Dimasukkan 1 gram hidroksilamin HCl dan 1,5 gram natrium asetat trihidrat dalam erlenmeyer 50 ml dan dilarutkan dalam 4 ml air .
b. Dipanaskan larutan sampai 35 drajat celcius.
c. Ditambahakan dengan sikloheksanon tutup dan gocang selama 1-2 menit.
d. Dilihat pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk
e. Didinginkan dalam lemari es.
f. Disaring kristal dengan corong Hirsch
g. Dicuci dengan 2 ml air es
h. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya.
6.6 Reaksi Haloform
a. Dimasukkan 5 tetes aseton dalam erlenmeyer yang telah berisi 3 ml larutan NaOH 5%.
b. Ditambahkan sekita 10 ml larutan iodium iodida.
Cara membuat : dilarutkan 25 gram iodium dan 50 gr larutan kalium iodida dalam 200 ml air.
c. Digoncang sampai warna coklat tidak hilang lagi.
d. Diamati odoform yang berwarna kuning akan mengendap dan bau khas yang timbul.
e. Dilakukan pengujian terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.
6.7 Kondensasi Aldol
a. Ditambahkan 0,5 ml asetaldehid ke larutan NaOH 1% .
b.Digoncang dan catat baunya (sisa asetaldehid).
c. Dipanaskan campuran selama 3 menit.
d. Dicatat, hati-hati bau tengik dari krotonaldehid.
e. Disusun peralatan untuk merefluks.
f. Dimasukkan 50 ml etanol, 1 ml aseton, 2 ml benzaldehidm dan 5 ml larutan NaOH 5%.
g. Direfluks campuran selama 5 menit.
h. Didinginkan labu dan kumpulkan kristal dengan corong Buchner.
i. Direkristalisai dengan etanol dan tentukan titik lelehnya.
Untuk videonya dapat dilihat dilink dibawah ini :
Permasalahan
1.
Salah satu reaksi yang dapat terjadi pada senyawa aldehid adalah bereaksi
dengan natrium bisulfit, dari reaksi tersebut zat apa yang akan dihasilkan ?
2.
Pada saat aldehid direaksikan dengan pereaksi
fehling akan dihasilkan endapan warna merah tembaga, mengapa hal ini
dapat terjadi ?
3.
Pada saat melakukan uji dengan pereaksi tollens, bagaimana cara kita menyatakan
bahwa senyawa organik yang digunakan pada percobaan itu adalah aldehid atau
keton ?

Saya Sri Oktika Dhijah Gultom(085) akan menjawab pertanyaan nomor 3. Pada saat uji dengan pereaksi tollens cara mebedakan itu aldehid atau keton adalah jika dia aldehid akan terbentuk cermin perak dan bila keton tidak akan terbetuk apa-apa dan tidak terbentuk cermin perak
BalasHapusperkenalkan saya Marta Febryza Manalu Rambe (A1C118037)akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1. Zat yang dihasilkan berupa produk tambahan bisulfit (kristal putih). terimakasih
BalasHapussaya Paulina erikaa Manurung (A1c118062) akan mencoba menjawab no 2 ialah Larutan Cu 2+ dilarutkan dalam senyawa basah, lalu Cu2+ akan bereaksi dengan basah akan membentuk senyawa Cu2O, senyawa Cu2O ialah yang berwarna merah bata, ada beberapa sisa oksigen yg tidak digunakan akan menempel pada gugus aldehiy yang menghasilkan senyawa asam karbosilat
BalasHapus