Selasa, 17 Maret 2020

Jurnal Reaksi-Reaksi Aldehida dan Keton

Jurnal Praktikum 
Kimia Organik 1
Reaksi - Reaksi Aldehida dan Keton



Disusun Oleh :


Adriyan Wijaya Putra
(A1C118035)


Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.


Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2020

Percobaan 5

I. Judul              : Reaksi - Reaksi Aldehida dan Keton

II. Hari/Tanggal : Rabu/ 18 Maret 2020

III. Tujuan            : Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :

1. Untuk dapat memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil.

2. Untuk dapat memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton.

3. Untuk dapat 
menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton.

IV. Landasan Teori


Aldehid dan keton adalah salah satu dari sekian banyak jenis senyawa organik yang ada, dimana pada senyawa ini terkandung gugus karbonil yang berbeda, namun mempunyai sifat kimia yang sama tetapi berbeda sifat fisikanya. Untuk memahami berbagai jenis reaksi senyawa karbonil ini, diperlukannya untuk memahami sifat kimia dan fisikanya. Aldehid dan keton itu sendiri merupakan senyawa polar yang  mempunyai molekul yang dapat larut dalam air yang disebabkan oleh adanya ikatan antara hidrogen dan air dengan gugus karbonil yang polar. Serta aldehid dan keton bertidak sebagai akseptor ikatan hidrogen. Untuk mengidentifikasi senyawa aldehid dan keton  dapat dilakukan dengan cara reaksi oksidasi. Hal ini karena aldehid  mudah menjalani reaksi oksidasi. Sehingga dapat dibedakan yang mana gugus aldehida (-CHO) dan yang mana gugus keton (-CO-). Serta perbedaaan kereaktifan terhadap oksidator ini dapat pula digunakan sebagai pembeda senyawa aldehid dan keton. Ini dikarenakan aldehid adalah reduktor yang kuat sementara keton sendiri merupakan reduktor yang lemah yang mana tidak dapat mengoksidasi larutan tollens dan fehling (Syamsurizal, 2019).


Pada sistem penamaan senyawa aldehid yang berdasarkan sistem penamaan IUPAC adalah menggunakan akhiran –al untuk rantai induknya. Penomoran dimulai dari rantai karbon yang mengandung gugus aldehida, dimana biasanya gugus ini selalu pada posisi angka satu. Contohnya seperti senyawa pentana menjadi pentanal. Sementara untuk penamaan keton berdasarkan sistem penamaan IUPAC adalah  menggunakan akhiran –on. Rantai induknya harus mengandung atau mencakup gugus karbonil yang dinomori dari ujung rantai ke gugus karbonil yang pertama kali, dimana gugus karbonil dengan nomor yang paling rendah. Contohnya senyawa pentana menjadi pentanon (Petrucci, 2008).


Aldehida dan keton adalah senyawa organik yang mengandung gugus karbonil, dimana R’ adalah gugus alkil atau aril yang senyawanya keton, dimana karbonilnya mengikat dua gugus alkil. Sedangkan R atau R’ adalah atom H maka senyawanya merupakan aldehida dimana karbornilnya mengikata satu atau dua atom hidrogen dan hanya memiliki satu gugus alkil.  Kedua senyawa ini sering disebut juga sebagai senyawa karbonil karena mengandung gugus karbonil, dimana dapat menuntukan sifat-sifat kimia dan perbedadaan struktur keton dan aldehid. Pada senyawa aldehid sangat  sekali mudah teroksidasi dan juga lebih reaktif terhadap adisi nukleofilik dari pada senyawa keton. Aldehid dan keton senyawa yang tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Senyawa aldehid dan keton dapat diperoleh dari reaksi oksidasi alkohol yaitu dimana alkohol primer dioksidasi akan mengahasilkan aldehid  dan alkoloh sekunder dioksidasi akan menghasilakn senyawa keton (Sastrohamidjojo, 2011).


Perbedaan kereaktifan terhadap oksidator antara aldehid dan keton dapat digunakan untuk membedakan kedua senyawa ini. Pada senyawa aldehid akan berekasi dangan perekasi tollens, tetapi tidak akan berekasi dengan keton. Perekasi tollens atau ion perak baramonia yang mana akan bereaksi dengan ladehida yaitu dengan  mengalami reaksi reduksi yang mana akan menghasilkan logam perak. Pengujian dengan perekasi ini dalam keadaan ecer akan terdapat endapan berupa cermin. Uji untuk membedakan senyawa aldehid dan keton juga dapat dilakukan dengan preaksi fehling yang mana kana bereaksi dengan aldehid tapi tidak berekasi untuk senyawa keton. Senyawa karbonil biasanya mengalami reaksi adisi, dimana reaksi adisi akan berekasi dengan ikatan rangkap karbonil dengan perekasi nukleofil.  Pasaangan elektron bebas pada nitrogen dari amonia atau senyawa lain yang dapat memnyebabkan bisa bereaksi dengan senyawa karbonil sebagai nukleofil. Seperti denilhidrazin berekasi kana mengahasilkan fenilhidrazon. Yang senyawa ini dapat mengidentifikasi aldehid dan keton dengan melalui titik lelehnya.  Begitu juga dengan hidroksilamin yang berekasi dengan karbonil yang menghasilkan osim yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi juga. Senyawa trihalo  yaitu senyawa yang mudah sekali mengurai yang akan menghasilkan haloform yang digunkaan unutk mengujiadanya metil keton. Anion enoalat adalah nukleofil yang dapat diadisi dengan gugus karbonil yang akan menghasilkan ikatan karbon yang baru, yang sering digunakan dalam proses sintesis. Seperti asetaldehid yang direaksikan dalam larutan basa ecer akan menhasilkan aldehid tak jenuh yang biasa dikenal dengan krotonaldehid (Penuntun Kimia Organik I, 2016).


Gugus karbonil merupan suatu gugus yang dimiliki oleh beberapa golongan senyawa seperi aldehida, keton, asam karbosilat, ester dan turunan lainnya. Pada golongan senyawa aldehida memiliki paling sedikit satu atom hidrogen yang melekat pada gugus karbonilnya, sedangkan gugus lainnya dapat berupa gugus alkil atau aril. Unutk keton sendiri memiliki atom karbon yang dihubungi dengan dua atom carbon lain. Senyawa aldehid dan keton dappat dibedakan  dari melihat perbedaan gugusnya yang terikat pada gugus karbonil. Dimana pada keton sangan sukar untuk dioksidasi dan aldehid mudah teroksidasi. Hal ini dikarenakan pada aldehid atom H nya menempel pada gugus karbonilnya. Karakteristik dari masing-masing aldhid dan keton yaitu dapat dilihat, pada senyawa aldehida tidak berwarna, pada suhu kamar akan berwujud gas dengan bau yang kurang enak, akan enak baunya saat cair dalam suhu kamar, dan juga merupakan senyawa polar yang membuat titik didihnya tinggi. Sementara karakteristik keton besifat polar karena gugus karbonilnya yang polar yang mana mudah larut dalam air, berupa cairan tidak berwarna, memiliki titik didih yang relatif tinggi yang mana mudah direduksi dengan gas H2 dimana akan menghasilkan alkohol skunder (Iqbal, 2010).


V. Alat dan Bahan

5.1 Alat
            1. Tabung Reaksi
            2. Pipet Tetes
            3. Erlenmeyer
            4. Penangas Air
            5. Batang Pengaduk
            6. Corong Hirsch
            7. Corong Buchner
            8. Alat Refluks

            9. Gelas Kimia


5.2 Bahan
            1. Aquades
            2. Pereaksi Tollens
            3. NaOH 5%
            4. Amonium Hidroksida 2%
            5. Benzaldehid
            6. Aseton
            7. Sikloheksanon

            8. Formalin
            9. Pereaksi benedict
            10. Garam Rochele
            11. n-heptanaldehid
            12. NaHSO3
            13. Air Es
            14. Etanol
            15. HCl Pekat
            16. Fenil Hidrazin
            17. Metanol
            18. Hidrosilamin HCl
            19. Natrium Asetat
            20. Larutan Iodium Iodida
            21. Isopropanol
            22. 2-Pentanon dan 3-Pentanon
            23. NaOH 1%

VI. Prosedur Kerja

6.1 Uji Cermin Kaca, Tollens

      a.  Disiapakan empat tabung reaksi yang sudah diisi pereaksi tollens.
     Cara membuat : tabung reaksi yang bersih sekali, dimasukkan 2 ml perak nitrat 5% dan ditambahkan dengan 2 tetes larutan NaOH 5% dan ditambah tetes demi tetes dengan larutan amonium hidroksida 2% sambil terus diaduk. amonium hidroksida ditabah secukupnya karenapengujian akan gagal jika terlalu banyak amonium. 
      b. Diuji benzaldehid, aseton, sikloheksanon, dan fomalin dengan memasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi pereaksi tollens sebanyak 2 ml.
     c.  Diaduk campuran dan didiamkan selama 10 menit.

     d. Dipenaskan tabung dalam penangas air selama lima menit jika reaksi tidak terjadi.

6.2 Uji Fehling dan Benedict

      a. Dimasukkan 5 ml kedalam masing-masing empat tabung reaksi pereaksi benedict.
Cara membuatnya : larutan 173 gram natrium sitrat dan 100 gram natrium karbonan dalam 750 aquadest, diaduk dan disaring ke dalam filtrat dan ditambah dengan larutan 17,3 gram CuSO4.5H20 dalam 100 ml air dan diencerkan hingga volumenya 1 liter. 
       b.Digunakan 5 ml pereaksi fehling yang masih fresh. 
Cara membuat : larutan A = 69 Gram CuSO4.5H2O dalam 1 liter air suling. Larutan B= 346 gram natrium kalium tartrat atau garam Rochelle  didalam larutan NaOH 10%, dimana pereaksi fehling A dan B sama banyak baru di campur. 
      c. Diuji formaldehid, n-heptanaldehid, aseton, dan sikloheksanon dengan memasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi yang berisi pereaksi fehling dan pereaksi Benedict.

      d. Ditempatkan tabung yang berisi tadi di air mendidih selama 10-15 menit.

6.3 Adisi Bisulfit

     a. Dimasukkan 5 ml larutan NaHSO3 ke dalam erlenmeyer 50 ml.
     b. Dilarutkan larutan dalam air es.
     c. Ditambahkan 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk.
     d. Ditambahkan 10 mletanol setelah 5 menit. unutk memulai kristalisasi.
     e. Disaring kristal dengan corong Hirsch.

     f. Apa yang akan terjadi bila kristal dalam tabung reaksi ditambahakan beberapa tetes HCl pekat.

6.4 Pengujian dengan Fenilhidrrazin

      a. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar 5 ml fenilhidrazin
      b. Ditambahakan dengan 10 tetes bahan yang akan di uji yaitu : benzaldehida 
          dan sikloheksanon.
      c. Ditutup tabung reaksi dan digoncang dengan kuat selama 1-2 menit hingga mengkristal.
      d. Disaring kristal dengan corong Hirsch dan dicuci dengan sedikit air dingin.
      e. Direkristalisasi dengan sedikit metanol dan etanol.
      f. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya.

     g. Digunakan dengan cara yang sama untuk 2,4-dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon. tentukan titik lelehnya.

6.5 Pembuatan Oksim

      a. Dimasukkan 1 gram hidroksilamin HCl dan 1,5 gram natrium asetat trihidrat dalam erlenmeyer 50 ml  dan dilarutkan dalam 4 ml air .
      b. Dipanaskan larutan sampai 35 drajat celcius.
      c. Ditambahakan dengan sikloheksanon tutup dan gocang selama 1-2 menit. 
      d. Dilihat pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk
      e. Didinginkan dalam lemari es.
      f. Disaring kristal dengan corong Hirsch
      g. Dicuci dengan 2 ml air es

      h. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya.

6.6 Reaksi Haloform

 a. Dimasukkan 5 tetes aseton dalam erlenmeyer yang telah berisi 3 ml larutan NaOH 5%.
     b. Ditambahkan sekita 10 ml larutan iodium iodida.
       Cara membuat : dilarutkan 25 gram iodium dan 50 gr larutan kalium iodida dalam 200 ml air.
   c. Digoncang sampai warna coklat tidak hilang lagi.
     d. Diamati odoform yang berwarna kuning akan mengendap dan bau khas yang timbul.
    e. Dilakukan pengujian terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.

6.7 Kondensasi Aldol

    a. Ditambahkan 0,5 ml asetaldehid ke larutan NaOH 1% .
 b.Digoncang dan catat baunya (sisa asetaldehid).
      c. Dipanaskan campuran selama 3 menit.
 d. Dicatat, hati-hati bau tengik dari krotonaldehid.
      e. Disusun peralatan untuk merefluks.
      f. Dimasukkan 50 ml etanol, 1 ml aseton, 2 ml benzaldehidm dan 5 ml larutan NaOH 5%.
      g. Direfluks campuran selama 5 menit.
      h. Didinginkan labu dan kumpulkan kristal dengan corong Buchner.

      i. Direkristalisai dengan etanol dan tentukan titik lelehnya.

Untuk videonya dapat dilihat dilink dibawah ini :



Permasalahan

1. Salah satu reaksi yang dapat terjadi pada senyawa aldehid adalah bereaksi dengan natrium bisulfit, dari reaksi tersebut zat apa yang akan dihasilkan ?

2. Pada saat aldehid direaksikan dengan pereaksi  fehling akan dihasilkan endapan warna merah tembaga, mengapa hal ini dapat terjadi ?

3. Pada saat melakukan uji dengan pereaksi tollens, bagaimana cara kita menyatakan bahwa senyawa organik yang digunakan pada percobaan itu adalah aldehid atau keton ? 

Selasa, 10 Maret 2020

Laporan Reaksi-Reaksi Hidrokarbon

Untuk tujuan hingga prosedur kerja dapat dilihat dilink berikut

VII. Data Pengamatan

7.1 Brom dalam tetraklorida

No.
Perlakuan
Hasil
1.
Diisi 1 ml alkana ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10-15 tetes brom diguncangkan, ditempatkan tabung dalam tempat gelap.
Warna tidak mengalami perubahan.
2.
Diisi 1 ml alkana ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10-15 tetes brom diguncangkan, ditempatkan tabung dalam tempaat yang disinari matahari.
Warna berubah dari kuning menjadi bening.
3.
Diisi 1 ml eter + 10 tetes brom dan diguncang.
Terdapat dua fasa, yang bagian atas berwarna kuning (brom) dan bagian bahwa berwarna putih (eter).
4.
Diisi 1ml benzene + 1ml brom lalu diguncang.
Terdapat dua lapisan, yang bagian atas berwarna bening dan bagian bawah berwarna coklat.

7.2 Brom

No.
Perlakuan
Hasil
1.
Tabung reaksi pertama, dimasukkan 1ml benzene kemudian ditambahkan 3 tetes brom.
Warna larutan pada bagian atas kuning dan pada bagian bawah bening.
2.
Dipanaskan tabung tersebut dalam penangas air (50 C).
Larutan menguap dan tidak ada sisa dalam tabung reaksi.
3.
Tabung reaksi kedua, dimasukkan potongan besi dan ditambahkan 1ml benzene.
Potongan besi terdapat pada bagian bawah tabung reaksi.
4.
Diteteskan 3 tetes brom kedalam tabung reaksi dua.
Warnanya menjadi kuning pudar.
5.
Dipanaskan tabung tersebut dalam penangas air (50 C).
Larutan masih tersisa pada tabung dan tidak menguap.


7.3 Larutan Kalium Permanganat

No
Perlakuan
Hasil
1.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkane (n-metana).
Warna larutan menjadi kecoklatan.
2.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkane (n-heptana).
Warnanya tetap ungu pekat.
3.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkane (n-heksana).
Warnanya tanpa kemerahan.
4.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkane sikloheksena (eter).
Warnanya ungu kemerahan
5.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes sikloheksena (Benzene).
Terbentuk dua lapisan dan masing-masing warnanya tetap.

7.4 Asam Sulfat

No
Perlakuan
Hasil
1.
Dimasukkan kedalam tabung reaksi 2 ml asam sulfat + 10 tetes eter kemudian digoncangkan.
Laurtan berubah warna menjadi jungga dan terasa panas saat dikocok.
2.
Dimasukkan 2 ml H2SO4 + 10 tetes n-heptana dikocok.
Larutan tidak larut sehingga terbentuk dua lapisan, pada bagian atas berwarna bening dan pada bagian bawah agak keruh.

7.5 Asam Nitrat

No
Perlakuan
Hasil
1.
Pada tabung reaksi satu, dicampurkan asam nitrat 4 ml dengan eter.
Timbul gelembung.
2.
Dimasukkan batu didih pada tabung dan dididihkan.
Timbul warna kuning pekat, bau yang menyengat dan asap
3.
Dituangkan larutan kedalam es.
Larutan menjadi bening kembali.
4.
Pada tabung reaksi dua, dicampurkan asam nitrat 4 ml dengan benzen 0,5 ml.
Timbul asap.
5.
Dimasukkan batu didih pada tabung dan dididihkan campuran.
Timbul gelembung dan larutan berubah menjadi warna kuning bening.
6.
Dituangkan larutan kedalam es.
Timbul asap dan bau yang menyengat, larutan berubah menjadi keruh.

7.6 Bahan Tidak Dikenal

7.6.1 Bahan Tidak Dikenal 1

No
Perlakuan
Hasil
1.
Pada tabung reaksi satu, ditambahnakn H2SO4 pada larutan sampel.
Timbul warna kecoklatan seperti warna betadine.
2.
Pada tabung reaksi dua, ditambahkan aquades pada larutan sampel.
Larutan tidak menyatu dan timbul gelembung dibawah.
3.
Pada tabung reaksi tiga, ditambahkan kloroform pada larutan sampel.
Terbentuk dua lapisan yang memisah.

7.6.2 Bahan Tidak Dikenal 2

No
Perlakuan
Hasil
1.
Pada tabung reaksi satu, ditambahkan H2SO4 pada larutan sampel.
Larutan menjadi panas dan terbentuk dua lapisan, pada bagian atas larutan keruh dan pada bagian bawah larutan bening.
2.
Pada tabung reaksi dua, ditambahkan aquades pada larutan sampel.
Terbentuk dua lapisan, pada bagian atas larutan keruh dan pada bagian bawah larutan bening.
3.
Pada tabung reaksi tiga, ditambahkan kloroform pada larutan sampel.
Larutan menjadi keruh.

VIII. Pembahasan
 Umumnya senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri atas atom karbon dan atom hidrogen yang sering disebut dengan alkana, alkena, dan alkuna. Pada kehidupan sehari-hari kita sering menemukan berbagai kegunaan atau manfaat dari senyawa hidrokarbon itu sendiri. Senyawa hidrokarbon ini mempunyai reaksinya ada dua yaitu dapat berlangsung secara pembakaran sempurna dan tak sempurna. Seperti halnya pada reaksi lain, pada reaksi hidrokarbon juga dapat digunakan katalis (Syamsurizal, 2019).


8.1 Brom dalam tetraklorida

Percobaan ini bertujuan agar dapat mengetahui kandungan brom pada tetraklorida. Pada percobaan ini alkana yang digunakan  adalah n-heksana. Terdapat dua jenis  perlakuan yang dilakukan. Pertama, dimasukkan 1 ml alkana kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10-15 tetes brom lalu diguncangkan, dan setelah itu diletakkan tabung kedalam tempat gelap. Kedua, diisi 1 ml alkana kedalam tabung reaksi,  selanjutnya ditambahkan 10-15 tetes brom dan diguncangkan, kemudian ditempatkan tabung ke tempat yang disinari oleh sinar matahari. Dari hasil yang didapatkan dari percobaan terdapat perbedaan antara yang diletakkan pada tempat terang dan tempat yang gelap. Pada tempat gelap tidak terjadinya perubahan warna yaitu tetap bewarna kuning, sementara untuk yang diletakkan ditempat terang  mengalami perubahan warna yaitu berubah dari kuning menjadi bening.

Selanjutnya kami melakukan percobaan dengan mencampurkan antara campuran brom dengan eter dan benzene dengan campuran brom. Pada percobaan pertama, diisi 1 ml eter setelah itu ditambahkan  10 tetes brom pada tabung reaksi yang kemudian diguncang. Hasil yang didapat adalah terdapat  dua fasa yaitu, pada yang bagian atas berwarna kuning (brom) dan pada  bagian bahwa berwarna putih (eter). Perlakuan kedua adalah diisi 1ml benzene lalu ditambahkan 1ml brom pada tabung reaksi dan diguncang. Hasil yang didapat adalah terdapat dua lapisan yaitu,  pada bagian atas berwarna bening dan bagian bawah berwarna coklat. Terbentuknya dua fasa (lapisan) itu disebabkan oleh karena adanya perbedaan dari kedua campuran.


8.2 Brom

Percobaan ini dibertujuan untuk menguji seberapa cepat brom akan bereaksi dengan benzene. Percobaan ini dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Pertama, diisi 1ml benzene kemudian ditambahkan 3 tetes brom. Didapatkan hasil perlakuan adalah terbentuknya dua lapisan pada tabung yaitu, terdapat perbedaan warna pada warna larutan, pada bagian atas kuning dan pada bagian bawah bening. Kemudian dipanaskan tabung  yang berisi larutan tersebut pada penangas air dengan suhu 50 C. Hasil yang didapatkan adalah larutan menguap dan tidak terdapa sisa larutan dalam tabung reaksi. Pada tabung reaksi kedua dilakukan hal yang serupa pada sampel namun dibuat perlakuan dengan ditambahkan potongan besi kedalamnya. Akibat dari penambahan besi ini adalah terdapat larutan masih tersisa dalam tabung dan tidak menguap pada saat proses pemanasan dilakukan.

8.3 Larutan Kalium Permanganat

Untuk percobaan ini dilakukan pengujian senyawa hidrokarbon yaitu alkana. Pada percobaan ini ada lima macam alkana yang digunakan. Pada percobaan ini, terjadi perubahan warna dari kalium permanganat yang awalnya ungu berubah ketika direaksikan dengan berbagai alkana. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi seperti tebentuknya endapan MnO2 yang ditandai dengan perubahan warna menjadi warna coklat. Reaksi  ion MnO4- dengan alkana  menyebabkan hilangnya warna ungu dari larutan. Perlakuan pertama, diletakkan 1 ml larutan KMnO4 pada tabung lalu ditambahkan  5 tetes n-metana. Hasil yang didapat adalah warna larutan berubah menjadi kecoklatan. Selanjutnya perlakuan kedua, dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 kemudian ditambahkan 5 tetes alkana n-heptana. Hasilnya adalah warnanya tetap ungu pekat. Kemudian perlakuan ketiga, diisikan 1 ml larutan KMnO4 dan ditambahkan 5 tetes  n-heksana. Didapatkan hasil, warna dari larutan berubah menjadi warna kemerahan. Perlakuan keempat, dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 dan ditambahkan 5 tetes sikloheksena (eter). Hasilnya adalah  terjadi perubahan warnanya menjadi ungu kemerahan. Perlakuan yang terakhir adalah dimasukkan 1 ml larutan KMnO4, setelah itu ditambahkan 5 tetes sikloheksena (Benzene) . Hasil yang didapatkan adalah terbentuk dua lapisan dan masing-masing warnanya tetap.

8.4 Asam Sulfat Pekat

Pada percobaan ini kami menggunakan pereaksi asam sulfat pekat dan menggunakan dua senyawa hidrokarbon  yang berbeda yaitu n-heptana dan eter. Pada tabung pertama, dimasukkan 2ml asam sulfat  kedalam tabung reaksi lalu ditambahkan 10 tetes eter kemudian digoncangkan. Hasilnya adalah terjadi perubahan warna larutan  yaitu, berubah warna menjadi jingga dan terasa panas saat dilakukan pengocokkan. Kemudian pada tabung kedua, diisi 2 ml H2SO4 dan dimasukkan  10 tetes n-heptana lalu dikocok. Hasil dari perlakuan ini adalah larutan tidak larut sehingga terbentuk dua lapisan yaitu, pada bagian atas larutan berwarna bening dan pada bagian bawah larutan agak keruh.

8.5 Asam Nitrat

Pada percobaan ini kami menggunakan  asam nitrat sebagai zat pereaskinya dan memakai dua sampel yang berbeda yaitu eter dan benzene.  Pada tabung reaksi pertama, dicampurkan asam nitrat 4 ml dengan eter , hal yang terjadi adalah  timbulnya gelembung pada tabung. Selanjutnya dimasukkan batu didih pada tabung reaksi lalu dididihkan. Hasilnya adalah timbulnya perubahan menjadi warna kuning pekat, muncul asap dan  tericum bau yang menyengat. Lalu dimasukkan campuran tersebut kedalam air es  , dan didapatkan larutan menjadi bening kembali.


Pada tabung reaksi dua, dicampurkan asam nitrat 4 ml dengan benzen 0,5 ml, didapatkan hasil muncul asap. Lalu ditambahkan batu didih pada tabung kemudian dididihkan campuran tersebut. Hasil yang didapatkan dari perlakuan ini adalah munculnya gelembung dan larutan berubah menjadi warna kuning bening. Lalu dituangkan larutan kedalam es dan munculnya asap dan bau yang menyengat, serta larutan berubah menjadi keruh

8.6 Bahan Tidak Dikenal

Pada percobaan ini terdapat dua macam sampel yang digunakan. Pada sampel petama yaitu pada tabung reaksi satu, ditambakan H2SO4 kedalam larutan sampel hasilnya adalah timbul warna kecoklatan seperti warna betadine. Sedangkan pada tabung reaksi dua, ditambahkan aquades pada larutan sampel hasil yang didapat adalah larutan tidak menyatu dan timbul gelembung dibawah. Untuk tabung reaksi tiga, dilakukan dengan penambahan kloroform pada larutan sampel hasilnya terbentuk dua lapisan yang memisah. Dari hasil reaksi yang didapatkan berdasarkan data pengamatan sifat fisik dan kimianya, dapat ditarik kesimpulan bahwa sampel pertama merupakan senyawa hidrokarbon jenuh. Hal ini dikarenakan sifatnya yang tidak menyatu dengan air dan terbentuk gelembung, dengan itu dapat diasumsikan bahwa sampel merupakan minyak.


Sedangkan untuk sampel kedua dilakukan prosedur pengerjaan yang serupa dengan sampel yang pertama,diamna didapatkan hasil untuk penambahan H2SO4 adalah larutan menjadi panas serta terbentuk dua lapisan yaitu pada bagian atas larutan keruh dan pada bagian bawah larutan bening. Kemudian untuk penambahan aquades juga terbentuk dua lapisan yaitu pada bagian atas larutan keruh dan pada bagian bawah larutan bening. Sedangkan untuk perlakuan terakhir pada penambahan kloroform  didapatkan hasil larutan berubah menjadi keruh. Berdasarkan hasil pengamatan dari setiap tabung rekasi yang dihasilkan yaitu, pada tabung reaksi ketiga dimana saat direaksikan dengan kloroform larutan memisah dan terbentuk cicin pada tabung reaksi. Maka kami dapat mengasumsikan  bahwa dengan cincin tersebut larutan sampel merupakan senyawa benzene yang tidak dapat larut.

IX. Pertanyaan pasca praktikum


1. Mengapa pada percobaan Kalium Permaganat dimana saat ditambahkan dengan benzene itu terbentuk dua lapisan sementara pada penambahan eter hanya terjadi perubahan warna saja yaitu menjadi warna merah?

2. Mengapa pada percobaan dengan menggunakan alkana saat direaksikan ditempat gelap alkana tidak bereaksi dengan brom sedangkan pada tempat yang terang dapat bereaksi?


3. Pada percobaan asam nitrat saat campuran antara asam nitrat dengan eter dipanaskan larutan berubah menjadi berwarna kuning pekat sedangkan pada saat dimasukkan ke air es larutan menjadi bening. Hal apakah yang menyebabkan campuran menjadi bening? Dan apakah bisa dilakukan pendinginan dengan air biasa?

X. Kesimpulan

1.      Senyawa hidrokarbon tak jenuh dan senyawa hidrokarbon jenuh memiliki kemampuan untuk bereaksi yang berbeda.

2.      Dalam melakukan penentuan golongan, dapat dilakukan berbagai macam uji seperti uji brom dalam tetraklorida, uji brom, uji asam nitrat, uji asam sulfat pekat, uji menggunakan Kalium permanganat.


3.      Dalam pengujian mengetahui sifat fisik dan sifat kimia dari senyawa yang diuji akan sangat membantu analisis

XI. Daftar Pustaka

Fessenden, R.J. and J.S. Fessenden. 2017. Kimia Organik Dasar Edisi Ketiga. Jilid 1.
       Terjemahan oleh A.H. Pudjaatmaka. Jakarta: Erlangga.

Marsaoli, M. 2004. Kandungan Bahan Organik, n-Alkana, Aromatik, dan Total Hidrokarbon   
        dalam Sedimen di Perairan Raha Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Jurnal 
        Makara  Sains. Vol 8 (3).

Riswiyanto.2009. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.

Syamsurizal. 2019. Reaksi Reaksi Hidrokarbon. Diakses pada tanggal 01 Maret 2020. Pukul
        20:38 WIB.

Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi.

XII. Lampiran

Untuk video praktikum dapat dilihat dilink berikut.