7.1. Analisa Unsur
7.1.1. Karbon dan hidrogen
7.1.2. Halogen
1. Tes Bellstein
2. Tes CaO
7.1.3. Metode leburan Natrium
a. Belerang
b. Nitrogen
c. Halogen
7.2. Penentuan Kelas Kelarutan
7.2.1. Kelarutan dalam air
7.2.2. Kelarutan dalam eter
7.2.3. Kelarutan dalam NaOH
7.2.4. Kelarutan dalam NaHCO3
7.2.5. Kelarutan dalam HCl
7.2.6. Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
7.2.7. Kelarutan dalam H3PO4 Pekat
VIII. Pembahasan
8.1. Analisa Unsur
8.1.1. Karbon dan hidrogen
Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya unsur karbon pada gula. Hal pertama yang kami lakukan adalah meletakkan serbuk CuO kering ke dalam cawan porselin, selanjutnya dikeringkan beberapa waktu di atas pemanas bunsen. Namun, tidak adanya perubahan yang terjadi , serbuk CuO tetap kering. Setelah itu dimasukkan gula selagi CuO dalam keadaan hangat. Hasilnya gula meleleh dan bercampur dengan serbuk CuO, Setelah itu diletakkan ke dalam tabung reaksi yang telah ditambahkan sumbat dan pipa pengalir gas. Selanjutnya dialirkan ke dalam tabung yang berisi 10 ml larutan Ca(OH)2. Kemudian dipanaskan dan muncul gas seperti asap.
8.1.2. Halogen
a. Tes Bellstein
Tes beilstein adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi apakah dalam suatu senyawa organik terdapat unsur C dan H atau tidak. Pada percobaan ini perlakuan pertama yang kami lakukan adalah memanaskan kawat tembaga sampai warna kemerah-merahan, kemudian dididinginkan lalu ditetetsi 2 tetes CCl4 lalu dipijarkan, hasilnya timbul warna hijau pada nyala api yang diamati.
b. Tes CaO
Dalam percobaan ini, dipanaskan beberapa CaO bebas halogen hingga suhu tinggi, lalu diteteskan CCl4 ketika masih panas dan tunggu hingga dingin, setelah dingin, dipanaskan kembali, kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100 ml dan masukkan juga larutan HNO3 encer. Hasil yang kami dapatkan adalah larutan berubah menjadi jernih dan timbulnya bau serta gelembung pada kulit telur.
8.1.3. Metode leburan Natrium
a. Belerang
Pada percobaan penentuan belerang ini terlebih dahulu perlu diasamkan 3 ml larutan L (putih telur) dengan menggunakan asam klorida, kemudian dipanaskan dan diperiksa gas dengan kertas saring basah yang telah ditetesi dengan Pb- asetat 10% dan untuk larutan L yang lain ditambahkan Na-nitroprosida dan hasilnya adalah terbentuk gumpalan kecil berwarna putih serta timbul gas atau bau yang tidak enak.
b. Nitrogen
Pada percobaan deteksi nitrogen ini, dimasukkan 5 tetes larutan Fe2SO4, 1 tetes laruatn FeCl3 dan 5 tetes larutan KF 10% kedalam larutan L. Kemudian ditambahkan 1-2 ml larutan NaOH 10%, lalu dididihkan. Hasil yang praktikan peroleh adalah warna larutan berubah menjadi kehitaman, kemudian berubah menjadi warna kuning bening. Setelah itu diasamkan dengan H2SO4 encer, kemudian akan terdapat endapan berwarna biru berlin.
c. Halogen
Pada percobaan haloge, ddilakukannya pengasaman 3 ml larutan L dengan HNO3 encer, dan hasilnya larutan berubah menjadi putih keruh. Jika terdapat N dan S, dipanaskan 5-10 menit, hasilnya terjadi perubahan warna larutan dari putih keruh berubah menjadi warna kuring serta terdapat juga gas dan bau yang tidak sedap. Setelah itu ditambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer yang mana hasilnya adalah munculnya endapan berwarna hitam agak kecoklatan.
8.2. Penentuan Kelas Kelarutan
8.2.1. Kelarutan dalam air
Untuk kelarutan dalam air 0,1 gram zat padat atau 3 tetes zat cair dengan 3 ml air suling dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian dikocok sekuat - kuatnya. Jika larutan berubah menjadi jernih berarti larut dalam air (+), serta jika larutan berubah menjadi keruh berarti tidak larut dalam air (-). Dari kelima senyawa yang diuji baik itu gula, garam, minyak, tepung dan putih telur semuanya dapat larut dalam air itu artinya (+).
8.2.2. Kelarutan dalam eter
percobaan ini dilakukan dengan cara dengan menambahkan 3 ml pelarut eter. B hasilnya ila larutan berubah menjadi jernih berarti (+) larut dalam eter atau sebaliknya. Pada tepung setelah ditambahkan eter, larutan berubah menjadi keruh dan tidak larut yang berarti (-). Sementara untuk garam dan gula larutan berubah menjadi jernih namun tidak larut, yang berarti (-), sedangkan untuk minyak dan putih telur menhasilkan larutan yang jernih dan larut, sehingga lberarti (+).
8.2.3. Kelarutan dalam NaOH 5%
Pada Kelarutan dalam NaOH setelah praktikan menambahkan 3 ml NaOH pada tepung, garam, minyak dan putih telur. Praktikan mendapatkan hasil yaitu keruh dan tidak larut, sehingga berarti (-). Berbeda halnya dengan gula yang menghasilkan larutan yang berubah jernih dan larut, sehingga berarti (+).
8.2.4. Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Pada percobaan kelarutan dalam NaHCO3, apabila timbul gas CO2 berarti hasilnya (+) dan sebaliknya (-). Setelah praktikan menambahkan NaHCO3 pada tepung, gula, garam dan minyak. Praktikan memperoleh hasil yang yaitu tidak ada gas CO2, sehingga disimpulkan (-), berbeda halnya dengan putih telur hasil yang diperoleh adalah terdapat gas CO2, sehingga dapat disimpulkan (+).
8.2.5 Kelarutan dalam HCl
Pada percobaan kelarutandalam HHCl, sesudah ditambahkan HCl kedalam kelima sampel uji yaitu tepung, gula ,garam, minyak dan putih telur. Praktikan memperoleh hasil yang yaitu semua larutan berubah menjadi jernih dan larut dalam air, ini berarti (+).
8.2.6 Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Pada Kelarutan dalam H2SO4 pekat. Apabila larutan menjadi jernih atau timbul panas atau perubahan warna berarti (+), pada percobaan yaang telah dilaksanakan untuk tepung dan minyak setalah dimasukkan H2SO4 pekat larutan berubah menjadi warna orange yang berarti (+). Untuk gula larutan yang diperoleh yaitu berwarna kuning kecoklatan yang berarti (+). Sementara untuk putih telur setelah ditambahkan H2SO4 pekat terasa panas pada bagian bawah tabung dan berwarna kemerah-merahan yang berarti (+). Sedangkan pada garam hasil yang didapatkan oleh praktikan adalah larutan tidak berwarna yang berarti (-).
8.2.7 Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Pada percobaan ini setelah ditambahkan 3 ml H3PO4 pekat pada gula, minyak dan putih telur hasil yang diperoleh yaitu jernih (+). Sedangkan pada tepung dan garam hasil yang diperoleh yaitu jernih dan mengendap yang berarti (+).
IX. Pertanyaan Pasca
1. Pada percobaan uji belerang, kita menggunakan putih telur untuk pengganti larutan L, mengapa kita menggunakan putih telur untuk menggantikan larutan L? Coba jelaskan!
2. Pada percobaan kelarutan dalam eter, didapatkan hasil dimana terdapat batas antara air dan eter. Apakah yang menyebabkan ada nya batas tersebut?
3. Pada percobaan uji halogen, terjadi penambahan AgNO3 . Apa tujuan dari penambahan AgNO3 ini?
X. Kesimpulan
Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia : Jakarta.
Perlakuan
|
Pengamatan
|
Diletakkan 1-2 gram serbuk CuO kering kedalam cawan porselin kemudian
dikeringkan beberapa saat diatas pemanas bunsen.
|
Tidak adanya perubahan pada serbuk CuO.
|
Dimasukkan sejumlah gula.
|
Gula meleleh dan bercampur dengan serbuk CuO
|
Dipindahkan kedalam tabung reaksi dengan ditambahkan sumbat dan pipa pengalir gas kemudian dialirkan kedalam tabung yang
berisi 10 ml larutan Ca(OH)2, lalu dipanaskan.
|
Munculnya gas seperti asap.
|
7.1.2. Halogen
1. Tes Bellstein
Perlakuan
|
Pengamatan
|
Dipijarkan kawat tembaga hingga kemerah-merahan dan tidak ada warna lain.
|
Kawat tembaga berwarna kemerahan saat di bakar
|
Didinginkan dan ditetesi dengan 2 tetes CCl4 , selanjutnya dipijarkan kembali.
|
Timbul warna hijau pada nyala api yang diamati saat dipijarkan. Q
|
2. Tes CaO
Pengamatan
|
Perlakuan
|
Dipijarkan sejumlah CaO bebas halogen sampai suhu tinggi, kemudian ditambahkan 2 tetes CCl4 saat masih panas.
Setelah disiapkan beberapa saat hingga dingin , selanjutnya dididihkan dengan 5-10 ml air
suling , Kemudian dituangkan ke dalam gelas kimia 100 ml dan larutan dalam HNO3 encer
.
|
Larutan jadi jernih, timbul bau dan gelembung pada kulit telur
|
7.1.3. Metode leburan Natrium
a. Belerang
Pengamatan
|
Perlakuan
|
Diasamkan 3 ml larutan L (Putih telur) menggunakan asam asetat, dididihkan dan periksa gas dengan kertas saring basah yang Telah ditetesi Pb-asetat 10 % dan untuk larutan L yang lain ditambahkan Na-nitroprosida.
|
Terbentuknya gumpalan kecil berwarna putih dan timbulnya gas serta bau yang tidak enak(pesing).
|
b. Nitrogen
Perlakuan
|
Pengamatan
|
Dimasukkan 5 tetes larutan FeSO4 , 1 tetes larutan FeCL3 dan
5 tetes larutan KF 10% ke dalam larutan L. Kemudian ditambahkan 1-2 ml larutaan NaOh 10%, lalu dididihkan.
|
Warna larutan berubah menjadi kehitaman kemudian berubah menjadi warna kuning bening.
|
Selanjutnya diasamkan dengan H2SO4 encer
|
Didapatkan endapan berwarna biru berlin.
|
c. Halogen
Perlakuan
|
Pengamatan
|
Diasamkan 3 ml larutan L menggunakan larutan HNO3 encer.
|
Larutan berubah menjadi putih keruh
|
Jika terdapat N dan S, dididihkan 5 – 10 menit
|
Terjadinya perubahan warna larutan dari putih keruh menjadi warna kuning, Serta terdapat gas dan bau yang tidak sedap.
|
Ditambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer
|
Muncul endapan warna hitam agak kecoklatan.
|
7.2. Penentuan Kelas Kelarutan
7.2.1. Kelarutan dalam air
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Jernih (+) larut
|
Garam
|
Jernih (+) larut
|
Gula
|
Jernih (+) larut
|
Minyak
|
Jernih (+) larut
|
Putih telur
|
Jernih (+) larut
|
7.2.2. Kelarutan dalam eter
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Keruh (-) tidak larut
|
Garam
|
Jernih (-) tidak larut
|
Gula
|
Jernih (-) tidak larut
|
Minyak
|
Jernih (+) larut
|
Putih telur
|
Jernih (+) larut
|
7.2.3. Kelarutan dalam NaOH
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Keruh (-) tidak larut
|
Garam
|
Keruh (-) tidak larut
|
Gula
|
Jernih (+) larut
|
Minyak
|
Keruh (-) tidak larut
|
Putih telur
|
Keruh (-) tidak larut
|
7.2.4. Kelarutan dalam NaHCO3
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Tidak ada gas CO2
|
Garam
|
Tidak ada gas CO2
|
Gula
|
Tidak ada gas CO2
|
Minyak
|
Tidak ada gas CO2
|
Putih telur
|
Ada gas CO2
|
7.2.5. Kelarutan dalam HCl
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Jernih (+)
|
Garam
|
Jernih (+)
|
Gula
|
Jernih (+)
|
Minyak
|
Jernih (+)
|
Putih telur
|
Jernih (+)
|
7.2.6. Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Warna orange (+)
|
Garam
|
Tidak berwarna (-)
|
Gula
|
Warna kuning kecoklatan (+)
|
Minyak
|
Warna orange (+)
|
Putih telur
|
Warna merah hati, panas (+)
|
Bahan
|
Pengamatan
|
Tepung
|
Jernih, Mengendap (+)
|
Garam
|
Jernih, Mengendap (+)
|
Gula
|
Jernih (+)
|
Minyak
|
Jernih (+)
|
Putih telur
|
Jernih (+)
|
VIII. Pembahasan
8.1. Analisa Unsur
8.1.1. Karbon dan hidrogen
Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya unsur karbon pada gula. Hal pertama yang kami lakukan adalah meletakkan serbuk CuO kering ke dalam cawan porselin, selanjutnya dikeringkan beberapa waktu di atas pemanas bunsen. Namun, tidak adanya perubahan yang terjadi , serbuk CuO tetap kering. Setelah itu dimasukkan gula selagi CuO dalam keadaan hangat. Hasilnya gula meleleh dan bercampur dengan serbuk CuO, Setelah itu diletakkan ke dalam tabung reaksi yang telah ditambahkan sumbat dan pipa pengalir gas. Selanjutnya dialirkan ke dalam tabung yang berisi 10 ml larutan Ca(OH)2. Kemudian dipanaskan dan muncul gas seperti asap.
8.1.2. Halogen
a. Tes Bellstein
Tes beilstein adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi apakah dalam suatu senyawa organik terdapat unsur C dan H atau tidak. Pada percobaan ini perlakuan pertama yang kami lakukan adalah memanaskan kawat tembaga sampai warna kemerah-merahan, kemudian dididinginkan lalu ditetetsi 2 tetes CCl4 lalu dipijarkan, hasilnya timbul warna hijau pada nyala api yang diamati.
b. Tes CaO
Dalam percobaan ini, dipanaskan beberapa CaO bebas halogen hingga suhu tinggi, lalu diteteskan CCl4 ketika masih panas dan tunggu hingga dingin, setelah dingin, dipanaskan kembali, kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100 ml dan masukkan juga larutan HNO3 encer. Hasil yang kami dapatkan adalah larutan berubah menjadi jernih dan timbulnya bau serta gelembung pada kulit telur.
a. Belerang
Pada percobaan penentuan belerang ini terlebih dahulu perlu diasamkan 3 ml larutan L (putih telur) dengan menggunakan asam klorida, kemudian dipanaskan dan diperiksa gas dengan kertas saring basah yang telah ditetesi dengan Pb- asetat 10% dan untuk larutan L yang lain ditambahkan Na-nitroprosida dan hasilnya adalah terbentuk gumpalan kecil berwarna putih serta timbul gas atau bau yang tidak enak.
b. Nitrogen
Pada percobaan deteksi nitrogen ini, dimasukkan 5 tetes larutan Fe2SO4, 1 tetes laruatn FeCl3 dan 5 tetes larutan KF 10% kedalam larutan L. Kemudian ditambahkan 1-2 ml larutan NaOH 10%, lalu dididihkan. Hasil yang praktikan peroleh adalah warna larutan berubah menjadi kehitaman, kemudian berubah menjadi warna kuning bening. Setelah itu diasamkan dengan H2SO4 encer, kemudian akan terdapat endapan berwarna biru berlin.
c. Halogen
Pada percobaan haloge, ddilakukannya pengasaman 3 ml larutan L dengan HNO3 encer, dan hasilnya larutan berubah menjadi putih keruh. Jika terdapat N dan S, dipanaskan 5-10 menit, hasilnya terjadi perubahan warna larutan dari putih keruh berubah menjadi warna kuring serta terdapat juga gas dan bau yang tidak sedap. Setelah itu ditambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer yang mana hasilnya adalah munculnya endapan berwarna hitam agak kecoklatan.
8.2. Penentuan Kelas Kelarutan
8.2.1. Kelarutan dalam air
Untuk kelarutan dalam air 0,1 gram zat padat atau 3 tetes zat cair dengan 3 ml air suling dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian dikocok sekuat - kuatnya. Jika larutan berubah menjadi jernih berarti larut dalam air (+), serta jika larutan berubah menjadi keruh berarti tidak larut dalam air (-). Dari kelima senyawa yang diuji baik itu gula, garam, minyak, tepung dan putih telur semuanya dapat larut dalam air itu artinya (+).
8.2.2. Kelarutan dalam eter
percobaan ini dilakukan dengan cara dengan menambahkan 3 ml pelarut eter. B hasilnya ila larutan berubah menjadi jernih berarti (+) larut dalam eter atau sebaliknya. Pada tepung setelah ditambahkan eter, larutan berubah menjadi keruh dan tidak larut yang berarti (-). Sementara untuk garam dan gula larutan berubah menjadi jernih namun tidak larut, yang berarti (-), sedangkan untuk minyak dan putih telur menhasilkan larutan yang jernih dan larut, sehingga lberarti (+).
8.2.3. Kelarutan dalam NaOH 5%
Pada Kelarutan dalam NaOH setelah praktikan menambahkan 3 ml NaOH pada tepung, garam, minyak dan putih telur. Praktikan mendapatkan hasil yaitu keruh dan tidak larut, sehingga berarti (-). Berbeda halnya dengan gula yang menghasilkan larutan yang berubah jernih dan larut, sehingga berarti (+).
8.2.4. Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Pada percobaan kelarutan dalam NaHCO3, apabila timbul gas CO2 berarti hasilnya (+) dan sebaliknya (-). Setelah praktikan menambahkan NaHCO3 pada tepung, gula, garam dan minyak. Praktikan memperoleh hasil yang yaitu tidak ada gas CO2, sehingga disimpulkan (-), berbeda halnya dengan putih telur hasil yang diperoleh adalah terdapat gas CO2, sehingga dapat disimpulkan (+).
8.2.5 Kelarutan dalam HCl
Pada percobaan kelarutandalam HHCl, sesudah ditambahkan HCl kedalam kelima sampel uji yaitu tepung, gula ,garam, minyak dan putih telur. Praktikan memperoleh hasil yang yaitu semua larutan berubah menjadi jernih dan larut dalam air, ini berarti (+).
8.2.6 Kelarutan dalam H2SO4 pekat
Pada Kelarutan dalam H2SO4 pekat. Apabila larutan menjadi jernih atau timbul panas atau perubahan warna berarti (+), pada percobaan yaang telah dilaksanakan untuk tepung dan minyak setalah dimasukkan H2SO4 pekat larutan berubah menjadi warna orange yang berarti (+). Untuk gula larutan yang diperoleh yaitu berwarna kuning kecoklatan yang berarti (+). Sementara untuk putih telur setelah ditambahkan H2SO4 pekat terasa panas pada bagian bawah tabung dan berwarna kemerah-merahan yang berarti (+). Sedangkan pada garam hasil yang didapatkan oleh praktikan adalah larutan tidak berwarna yang berarti (-).
8.2.7 Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Pada percobaan ini setelah ditambahkan 3 ml H3PO4 pekat pada gula, minyak dan putih telur hasil yang diperoleh yaitu jernih (+). Sedangkan pada tepung dan garam hasil yang diperoleh yaitu jernih dan mengendap yang berarti (+).
IX. Pertanyaan Pasca
1. Pada percobaan uji belerang, kita menggunakan putih telur untuk pengganti larutan L, mengapa kita menggunakan putih telur untuk menggantikan larutan L? Coba jelaskan!
2. Pada percobaan kelarutan dalam eter, didapatkan hasil dimana terdapat batas antara air dan eter. Apakah yang menyebabkan ada nya batas tersebut?
3. Pada percobaan uji halogen, terjadi penambahan AgNO3 . Apa tujuan dari penambahan AgNO3 ini?
X. Kesimpulan
Sesudah kita melakukan percobaan diatas , kita dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
1. Analisis kualitatif adalah suatu pengidentifikasian unsur yang mana belum diketahui dan diadalamnya terkandung sampel atau analit yang sedang diuji. Kita dapat melakukan analisis dengan berbagai cara seperti pemisahan, pengendapan, uji nyala dan lain-lain.
2. Untuk percobaan analisa kandungan karbon dan hidrogen pada sampel, kita menggunakan campuran CuO dan gula yang dipanaskan. Sedangkan untuk analisa kandungan Belerang, Nitrogen dan Halogen kita menggunakan larutan L yang nantinya akan diuji keberadaannya yaitu terdapat atau tidak unsur tersebut dalam larutan L tersebut.
3. Untuk mengidentifikasi larutan unknown (yang tidak diketahui), kita bisa melakukannya pada percobaan ini pada tes Belerang, Halogen dan Nitrogen. Untuk larutan L yang kita gunakan pada praktikum ini adalah putih telur.
XI. Manfaat
Setelah dilakukannya praktikum, praktikan bisa memahami bagaimana cara untuk mengidentifikasi kandungan suatu unsur yang tidak diketahui didalam suatu sampel. Selanjutnya karena praktikan telah melakukan penentuan kelas, praktikan bisa menentukan atau mengira kemampuan zat-zat tertentu agar larut kedalam pelarutnya.
XII. Daftar Pustaka
XI. Manfaat
Setelah dilakukannya praktikum, praktikan bisa memahami bagaimana cara untuk mengidentifikasi kandungan suatu unsur yang tidak diketahui didalam suatu sampel. Selanjutnya karena praktikan telah melakukan penentuan kelas, praktikan bisa menentukan atau mengira kemampuan zat-zat tertentu agar larut kedalam pelarutnya.
Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia : Jakarta.
Fessenden, R. I. and J.S. 1989. Kimia Organik Dasar Edisi Ketiga Jilid 1. Terjemahan oleh A.H. Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.
Syamsurizal. 2019. Analisisa Kualitatif Senyawa Organik. (Diakses pada 26 Januari 2020 pukul 14 : 00).
Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Jambi : Universitas Jambi.
Underwood, A.L, Day, R.A. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
XIII. Lampiran Gambar
Untuk video praktikum dapat di lihat di link berikut ini
Syamsurizal. 2019. Analisisa Kualitatif Senyawa Organik. (Diakses pada 26 Januari 2020 pukul 14 : 00).
Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Jambi : Universitas Jambi.
Underwood, A.L, Day, R.A. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
XIII. Lampiran Gambar
Untuk video praktikum dapat di lihat di link berikut ini
![]() |
| Endapan biru berlin pada uji nitrogen |
![]() |
| Penentuan kelarutan pada eter |


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Perkenalkan nama saya Dea Ristria Ariani dengan NIM: A1C118003. Saya akan membantu menjawab pertanyaan nomor 2. Jawabannya itu karena perbedaan massa jenis dari pelarut air dan eter dengan massa jenis air itu sebesar 1gr/cm3 sedangkan eter 0.713 gr/cm3 . Hal itulah yang menyebabkan terbentuknya batasan diantaranya.
BalasHapusassalamualaikum wr.wb
BalasHapusperkenalkan saya indah syafitri (A1C118018) saya akan membantu jawab pertanyaan no 3. tujuan penambahan AgNO3 yaitu untuk mengidentifikasi adanya unsur halogen dalam suatu sampel.
terimakasih
semoga bermanfaat...
Saya Sri Oktika Dhijah(A1C118085) akan menjawab pertanyaan nomor 1. Larutan L diganti dengan putih telur karena putih telur itu mengandung protein. Oleh karena itu kita dapat mengetahui adanya unsur Belerang dalam protein.Karena bahan uji yang mengandung belerang itu adalah putih telur sehingga larutan L bisa diganti dengan putih telur sebagai pengujinya.
BalasHapus