Laporan Praktikum
Kimia Organik I
Kalibrasi Termomter dan Penentuan Titik Leleh
NAMA :
Adriyan Wijaya Putra
NIM
: A1C118035
Dosen Pengampu :
Dr.Drs. Syamsurizal, M.Si.
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2020
VII. Data Pengamatan
7.1 Kalibrasi Termometer
7.1 Kalibrasi Termometer
NO
|
Perlakuan
|
Hasil
|
1.
|
Dicampurkan
air dan es didalam erlenmeyer, kemudia dimasukkan termometer dan yang dilengkapi
sumbat serta diukur suhu bawah thermometer
|
Suhunya 0°C
|
2.
|
Dimasukkan
termometer kedalam aquades yang dipanaskan, kemudian diukur suhu
awal mendidih sampai tidak naik lagi (konstan)
|
Suhu
tetapnya 100°C
|
7.2 Penentuan titik leleh
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
||
1.
|
Dibakar ujung pipa kapiler
dan dimasukkan zat murni yang dipanaskan dan diikat pada termometer ,
dimasukkan dalam erlenmeyer berisi aquades, kemudian dipanaskan dan dicatat
suhu saat mulai meleleh hingga meleleh sempurna
|
|||
1
|
β-Naftol
|
Suhunya 105 °C -115 °C
|
||
2
|
Naftalen
|
Suhunya 78 °C-84 °C
|
||
3
|
Glukosa
|
Suhunya 120 °C -140 °C
|
||
4
|
Asam Benzoat
|
Suhunya 98 °C -150 °C
|
||
5
|
Maltosa
|
Suhunya 105 °C -107 °C
|
||
2
|
Dengan
Cara yang sama, ditetukan titik leleh campuran dua senyawa dengan proporsi
1:1, 1:3 , 3: 1
|
|||
Perbandingan 1:1
|
||||
1
|
Naftalen dan Glukosa
|
Suhunya 100 °C -148 °C
|
||
2
|
Glukosa dan β-Naftol
|
Suhunya 130 °C -140 °C
|
||
3
|
β-Naftol dan Asam Benzoat
|
Suhunya 88 °C -92 °C
|
||
4
|
Asam Benzoat dan Maltosa
|
Suhunya 110 °C -120 °C
|
||
5
|
Maltosa dan Naftalen
|
Suhunya 120 °C -122 °C
|
||
Perbandingan 1:3
|
||||
1
|
Naftalen dan Glukosa
|
Suhunya 148 °C -155 °C
|
||
2
|
Glukosa dan β-Naftol
|
Suhunya 146 °C -150 °C
|
||
3
|
β-Naftol dan Asam Benzoat
|
Suhunya 90 °C -103 °C
|
||
4
|
Asam Benzoat dan Maltosa
|
Suhunya 100 °C -155 °C
|
||
5
|
Maltosa dan Naftalen
|
Suhunya 110 °C -114 °C
|
||
Perbandingan 3:1
|
||||
1
|
Naftalen dan Glukosa
|
Suhunya 130 °C -146 °C
|
||
2
|
Glukosa dan β-Naftol
|
Suhunya 138 °C -149 °C
|
||
3
|
β-Naftol dan Asam Benzoat
|
Suhunya 85 °C -120 °C
|
||
4
|
Asam Benzoat dan Maltosa
|
Suhunya 97 °C -135 °C
|
||
5
|
Maltosa dan Naftalen
|
Suhunya 113 °C -115 °C
|
||
7.3
Demosntrasi Titik Leleh dengan MPA
(Melting Point Apparatus)
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
1.
|
Ditentukan
titik leleh dari masing-masing sampel pada pipa kapiler setebal lebih kurang
2 mm. Ditentukan menggunakan MPA
|
||
1
|
β-Naftol
|
110 °C-115 °C
|
|
2
|
Naftalen
|
85 °C-100 °C
|
|
3
|
Glikosa
|
160,72 °C-180 °C
|
|
4
|
Asam Benzoat
|
115 °C-120 °C
|
|
5
|
Maltosa
|
90 °C-102 °C
|
|
VIII. Pembahasan
Suatu alat ukur suhu yang biasa
digunakan untuk mengukur dalam berbagai keadaan yaitu termometer. Hasil
pengukuran yang akurat dapat menentukan tindak lanjut dari pekerjaan yang akan
dilakukan. Seorang praktikan harus memastikan bahwa termometer yang digunakan
benar-benar berfungsi dengan baik dan juga harus dapat menyimpan alat ukur
tersebut dengan baik. (Syamsurizal, 2019)
8.1. Kalibrasi
Termometer
Kalibrasi merupakan proses
pengecekkan tingkat akurasi dari suatu alat ukur yang mengacu kepada satuan
standar internasional. Tujuan dilakukannya kalibrasi yaitu untuk menentukan
kebenaran nilai ukur yang tertera pada termometer yang digunakan pada
percobaan.
Sebelum dilakukan percobaan, memeriksa
alat yang digunakan merupakan langkah penting untuk menghindari kesalahan saat
percobaan. Tujuan dilakukannya kalibrasi termometer adalah untuk mengetahui
apakah termometer yang akan digunakan dalam keadaan baik atau tidak dan untuk mengetahui apakah temometer masih
mempunyai keakuratan dalam mengukur suhu. Kami melakukan kalibrasi termometer
dengan menggunakan air es (campuran air dan es batu) dan menggunakan air panas
(air yang didihkan). Praktikan menggunakan air sebagai media karena termometer
yang digunakan memiliki rentang antara 0°C hingga 100 0°C. Pada pengkalibrasian,
pertama-tama kami menggunakan air es, dimana termometer diletakkan didalam
wadah yang berisi air es. Kemudian diukur suhunya, dan hasilnya termometer mencapai
suhu 0°C. Lalu pengkalibrasian kedua menggunakan air panas, yang mana awalnya aquades
dipanaskan didalam gelas kimia dan diletakkan termometer didalamnya. Hasilnya suhu
mencapai 100°C ketika air mendidih.
8.2 Penentuan
titik leleh
Untuk percobaan penentuan titik
dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah ada, sampel yang digunakan yaitu naftalen,
β-naftol, glukosa , asam benzoat dan maltosa. Pertama-tama yang dilakukan
adalah memasukan sampel yang akan ditentukan titik lelehnya kedalam pipa
kapiler, setelah itu pipa kapiler tersebut disumbat dan diikatkan pada
thermometer, kemudian dimasukan termometer tersebut kedalam gelas kimia yang
berisi minyak. Pada sampel naftalen didapatkan suhu 78°C -84°C, pada β-naftol 105°C -115°C, pada glukosa 120°C -140°C, pada asam benzoat 98°C -150°C, pada maltosa105°C -107°C.
Pada percobaan ini dilakukan
penentuan titik leleh untuk sampel dengan melakukan perbandingan antara dua
sampel dengan perbandingan 1:1, 1:3 3:1. Pada perbandingan 1: 1, naftalen
dicampur dengan glukosa suhunya 100°C -148°C, glukosa dicampur dengan β-naftol suhunya 130°C -140°C, β-naftol dicampur dengan asam benzoat suhunya 88°C -92°C, asam benzoat dicampur dengan maltosa suhunya 110°C -120°C, maltosa dicampur dengan naftalen suhunya 120°C -122°C.
Untuk perbandingan 1 : 3 pada saat naftalen
dicampur dengan glukosa suhunya 148°C -155°C, glukosa dicampurkan dengan β-naftol suhunya 146 -150, β-naftol dicampur dengan asam benzoat suhunya 90°C -103°C, asam benzoat dicampur dengan maltosa suhunya 100°C -155°C, maltosa dicampur naftalen suhunya 110°C -114°C.
Untuk perbandingan 3 : 1,
naftalen dicampur dengan glukosa suhunya 130°C -146°C, glukosa dicampur dengan β-naftol suhunya 138°C -149°C, β-naftol dicampur dengan asam benzoat suhunya 85°C -120°C, asam benzoat dicampur dengan maltosasuhunya 97°C -135°C, maltosa dicampur dengan naftalen suhunya 113°C -115°C
.
8.3 Demostrasi
titik leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus).
Dalam melakukan pengujian titik
leleh ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu dengan cara manual dan
menggunakan cara MPA. Dimana sampel yang digunakan oleh
praktikan adalah naftalen, β-naftol, glukosa , asam benzoat dan maltosa. Hasil
yang didapatkan dari praktikum yaitu, pada naftalen hasil pengukuran yang
didapatkan adalah 85°C-100°C, pada glukosa suhunya 160,72°C-180°C, pada asam benzoat suhunya 115°C-120°C, pada matosa suhu yang didapatkan adalah 90°C-102°C.
IX. Pertanyaan
pasca
1.
Pada percobaan dengan MPA, di dapatkan hasil pengukuran suhu yang berbeda
antara yang tertera di termometer dengan yang ada di MPA,mengapa demikian?
2. Mengapa pada percobaan ini kita
menggunakan minyak untuk beberapa zat seperti pada glukosa dan b naftol?
3. Pada percobaan ini, apakah ada
pengaruh dari jumlah atau banyak nya zat yang akan di lelehkan terhadap hasil
pengukuran yang di dapatkan? Misal nya pada pengukuran titik leleh glukosa?
X. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan kali ini
adalah :
Pada penentuan titik leleh suatu senyawa murni, perlu diperhatikan prinsip
dasar yang ada yaitu, ditentukan berdasarkan pengamatan tingkat lelehnya,
selanjutnya pada perubahan fasa padat ke cair hingga seluruh bagian kristal
telah meleleh.
Kalibrasi termometer dilakukan dengan tujuan untuk memastikan kondisi atau
dari keadaan dari termometer ,apakah suatu termometer dapat berfungsi dengan
baik atau tidak.
Pada suatu senyawa murni masing-masingnya mempunyai titik leleh yang
berbeda dengan suatu senyawa campuran.
Setelah dilakukannya pecobaan diatas, didapatkan hasil dimana titik leleh
yang dipunyai suatu sampel itu berbeda beda.
XI. Manfaat
Setelah dilakukannya praktikum
diharapkan agar praktikan dapat mengetahui dan mencoba mempraktekkan metode
yang diketahui yaitu, cara manual dan cara pengukuran dengan menggunakan MPA (
Melting Point Apparatus). Serta diharapakan praktikan dapat mengetahui
bagaimana cara melakukan kalibrasi termometer dan pentingnya dilakukan
kalibrasi termometer sebelum digunakan.
XII. Daftar
Pustaka
Fessenden, R.J. and J.S. Fessenden. 2017. Kimia Organik Dasar Edisi Ketiga Jilid 1.
Jakarta : Erlangga.
Gracesella. 2012.
KO-Kristal di Bidang Farmasi. Jurnal Farmaka. Vol 12(1). 63-79.
J, Basset. 2013. Buku
Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Edisi 4. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Syamsurizal. 2019. Kalibrasi
Termometer dan Penentuan Titik Leleh. Diakses pada tanggal 15 Februari
2020. Pukul 20:22
Tim Kimia Organik 1. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Jambi : Universitas Jambi.




Assalamualaikum wr wb
BalasHapusSaya Fadillah Fatma dengan NIM A1C118092 ingin membantu untuk menjawab pertanyaan nomor 2 yaitu alasan kenapa digunakan minyak goreng digunakan dalam percobaaan penentuan titik leleh. Hal tersebut dikarenakan minyak goreng memiliki titik didih yang sangat tinggi sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik leleh dari beberapa zat murni ataupun campuran. Semoga dapat membantu.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusassalamualaikum, Saya Diana Sari (A1C118096) akan mencoba menjawab pertanyaan no 3. Banyaknya zat yang akan digunakan tidak mempengaruhi titik leleh senyawa tersebut. Terimakasih, semoga membantu
BalasHapusAssalamualaikum, perkenalkan saya RAHMADANSAH Nim: A1C118066 ingin membantu menjawab permasalahan nomor 1, karena pada pengukuran secara manual pakai termometer besar kemungkinan banyak terjadi ketidak akuratan hasil yang disebabkan oleh kesalahan praktikan, sedangkan pada MPA itu akurat karna ini sudah pakai alat ukur titik leleh jadi besar kemungkinan hasil yang diberikan akurat. Makanya hasil antara manual termometer berbeda dengan hasil MPA Terimakasih semoga membantu
BalasHapus